oleh

PSSI Berencana Gelar Liga 1 Indonesia Mulai Bulan Juni

Kompetisi sepak bola Indonesia segera bergulir kembali. Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyampaikan Liga 1 dan Liga 2 bakal digelar pada pertengahan tahun ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menyampaikan, Liga 1 rencananya akan dimulai pada bulan Juni. Sementara Liga 2 direncanakan digelar pada bulan Juli mendatang.

Kendati begitu, keputusan dimulainya Liga 1 dan Liga 2 masih akan dibahas lebih lanjut bersama stakeholders terkait, yakni PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan klub-klub Liga 1 dan Liga 2. “Kapan start-nya nanti akan didiskusikan lagi antara PSSI-LIB, Liga 1 dan Liga 2. Masih perlu ada pertemuan lanjutan untuk kompetisi ini,” kata dia seperti dilansir dari Kontan.co.id, Jum’at, (9/4).

PSSI juga bakal menggelar Kongres tahunan pada bulan Mei nanti. Yunus bilang, forum tersebut akan membahas banyak hal, termasuk kompetisi musim 2021-2022.

Yunus optimistis, liga sepak bola di Indonesia bisa bergulir selayaknya liga-liga di Eropa dan Asia yang juga sudah berjalan. Industri sepak bola tanah air pun diproyeksikan akan kembali bergerak, yang dirangsang oleh pemulihan ekonomi dan vaksinasi Covid-19.

“Saya yakin pertumbuhan ekonomi dunia termasuk Indonesia akan tumbuh positif tahun ini. Apalagi program vaksin terus berjalan. Saya kira kalau ekonomi tumbuh, sepak bola juga akan makin bergeliat. Iklan atau sponsor pasti juga akan masuk ke PSSI, LIB, dan klub,” ujar Yunus.

Pesohor dan Pebisnis di Sepak Bola

Belakangan ini, sejumlah pesohor dan pebisnis atau konglomerasi juga tertarik untuk masuk ke bisnis sepak bola. Sebut saja, Persis Solo. Klub berjuluk Laskar Sambernyawa tersebut saat ini 40% sahamnya dimiliki oleh Kaesang Pangarep, putera bungsu Presiden Jokowi.

Selain Kaesang, Menteri BUMN Erick Thohir juga menggenggam 20% saham PT Persis Solo Saestu, dan 30% saham lainnya dimiliki Kevin Nugroho.

Terbaru, pesohor Raffi Ahmad dan Presiden Direktur Prestige Motorcars Rudy Salim mengakuisisi Cilegon United. Klub yang berlaga di Liga 2 itu kemudian bertransformasi menjadi RANS Cilegon FC.

Raffi dan Rudy menginvestasikan hingga Rp 300 miliar untuk memoles Cilegon FC. “Nilai investasi lebih dari Rp 300 miliar, meliputi akuisisi klub, pembelian pemain, pembangunan lapangan dan infrastruktur penunjang dan academy juga SSB,” ujar Rudy, Jum’at (9/4).

Plt. Sekjen PSSI Yunus Nusi menyambut baik minat pesohor dan konglomerasi untuk masuk ke klub bola. Dengan begitu, kompetisi dan industri sepak bola dalam negeri diharapkan bisa semakin kompetitif. Sebab, untuk memajukan klub sepak bola dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

“Tentu untuk menjadi klub besar. Harus punya pemain bagus, pelatih mumpuni, dan manajemen yang oke. Jika semua digabungkan saya kira bagus bagi klub itu,” ungkap Yunus.

Dihubungi terpisah, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, industri dan bisnis sepak bola memiliki prospek yang bagus. Apalagi dengan jumlah suporter yang melimpah dan loyal, memiliki klub sepak bola menjadi prestisius.

Huda bilang, masuknya pebisnis dan pesohor ke industri sepak bola juga terjadi di negara lainnya. Termasuk di liga-liga besar dunia. Di Indonesia, salah satu konglomerat yang rajin berinvestasi di industri sepak bola adalah Grup Bakrie.

Keuntungan memiliki klub sepakbola juga bisa mengangkat nama atau pamor sang pemilik. Baik secara pribadi maupun korporasi. Apalagi dengan tim yang memiliki basis suporter yang mengakar dan fanatik.

“Produk-produk dari perusahaan investor akan terpampang dalam stadion, kaos, hingga acara-acara lainnya yang tentu saja itu adalah upaya marketing perusahaan,” sambung Huda.

Yang pasti, masuknya para pebisnis ini ke kancah sepakbola diharapkan bisa membuat klub-klub lokal menjadi semakin kompetitif dan dikelola secara profesional. Sehingga bisa mandiri secara finansial dan tidak tergantung lagi kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Dengan semakin mandiri klub, artinya semakin bagus sepakbola. Masuknya pebisnis ke industri sepakbola nasional seharusnya bisa baik,” kata Huda.

Mengenai kondisi sepak bola Indonesia saat ini, Huda melihat bahwa klub sepak bola kesulitan untuk menggenjot pemasukan. Sekali pun nanti Liga 1 dan Liga 2 kembali digelar, kehadiran penonton belum diperbolehkan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Padahal, pendapatan klub juga tergantung terhadap pemasukan penonton melalui penjualan tiket. Sebab, dana dari hak siar biasanya tidak langsung cair. Sedangkan untuk mencari sponsor bukan lah perkara mudah.

Menurut Huda, digelarnya Piala Menpora 2021 bisa kembali menggerakkan industri sepak bola, meski belum signifikan. “(Klub sepak bola) Harus pintar-pintar nyari sponsor untuk mengurangi ketergantungan kepada pemasukan tiket penonton,” pungkas Huda.