Sejarah Stadion legendaris milik Chelsea Stamford Bridge

Chelsea didirikan oleh Gus Mears pada 1904 saat ia mengakuisisi stadion Stamford Bridge atletik dan kemudian diubah menjadi lapangan sepakbola.

Mulanya ia hendak mencari tempat di dekat Fulham namun ditolak karena sudah ada klub bernama Borough. Akhirnya setelah memilih bererapa nama seperti Kensington FC, Stamford Bridge FC atau London FC, nama Chelsea dipilih dan klub resmi berdiri pada 10 maret 1905.

Klub ini akhirnya menjuarai divisi kedua di musim kedua mereka. Final piala FA pertama mereka diraih pada 1915 namun kalah dari Sheffield United.

Posisi terbaik di divisi utama mentok di posisi 3 pada tahun 1919/1920. Hasil itu membuat mereka angkat nama dan eks pelatih Arsenal dan timnas Inggris, Ted Drake menjadi bagian dari klub sekaligus katalis kebangkitan pada 1952.

Dengan pemain-pemain macam Bobby Smith, Jim Lewis dan Roy Bentley, klub berhasil menjuarai liga Inggris pertamanya pada musim 1954/1955. Tiket Liga Champions (LC) musim pertama berhasil diraih namun karena FA keberatan akhirnya sejarah sebagai klub Inggris pertama yang tampil di LC gagal terwujud.

Hingga penghujung tahun 50-an prestasi juara gagal diulang dan klub hanya menduduki papan tengah. Drake akhirnya dipecat dan digantikan Tom Docherty.

Di era 60-an dibawah kepemimpinan Docherty, Chelsea sempat nyaris meraih treble winners Liga, Piala FA dan Piala Liga pada 1964/1965, namun hanya Piala Liga yang berhasil didapat karena kalah bersaing dengan rival terberat mereka saat ini, Manchester United yang akhirnya menjadi tim Inggris pertama yang meraih gelar LC pada 1967/1968.

Musim 1969/1970, The Blues sukses meraih gelar Piala FA pertama di tangan pengganti Docherty, Dave Sexton. Namun musim-musim berikutnya klub mengalami periode buruk karena krisis keuangan yang menjadikan mereka sebagai tim yoyo karena sering bolak-balik divisi satu dan divisi dua.


SEJARAH CHELSEA


Musim 1997/1998, Vialli meneruskan resep ciamik Gullitt dimana tim berhasil mengatasi Vfb Stuttgart di final Piala Winners yang kala itu dilatih Joachim Loew, arsitek timnas Jerman saat ini.

Gelar piala Super Eropa pun diraih setelah Chelsea mengandaskan pemenang liga champions, Real Madrid. Nama Vialli pun semakin menjulang karena dua musim kemudian gelar Piala FA ketiga pada 1999/2000 diraih dengan kehadiran bintang-bintang baru macam Didier Deschamps, Chris Sutton, Carlo Cudicini plus pemuda jebolan akademi yang kini jadi kapten klub, John Terry.

Setelah Vialli lengser, Italiano lainya, Claudio Ranieri ditunjuk sebagai pelatih kepala. Top skorer klub sepanjang masa, Frank Lampard datang pada 2001 dari West Ham dan menjadi ikon klub bersama Terry.

Di Tangan Ranieri, tim semakin getol membeli pemain-pemain bintang dari luar setelah klub diakuisisi oleh Roman Abramovich dari tangan Bates dengan nilai 140 juta lira pada juni 2003 sekaligus menjadi pionir tim-tim kaya baru yang menjadi kekuatan baru Eropa.

Musim pertama Roman, 2003/2004, tim membeli pemain-pemain bintang macam Juan Veron, Adrian Mutu, Claude Makelele dan lain-lain. Prestasi instan pun berhasil diraih dimana tim berhasil menjadi runner-upLiga Primer Inggris di bawah rival sekota Arsenal sekaligus mencapai semi-final LC sebelum ditaklukkan AS Monaco.

Meski cukup lumayan, Ranieri harus menerima kenyataan pahit dipecat klub karena Abramovich tergiur dengan kehebatan Jose Mourinho yang membawa FC porto juara Liga Champions di musim tersebut. Kehadiran Mourinho sekaligus mewujudkan mimpi dan merayakan 100 tahun klub meraih gelar liga setelah setengah abad cuti dengan mengandaskan Bolton Wanderers 2-0 di pekan ke-36 musim 2004/2005.

Bintang-bintang baru macam Mateja Kezman, Damien Duff, Tiago Mendes plus duo berpengaruh Petr Cech-Didier Drogba berpadu apik dengan Claude Makelele, Wayne Bridge plus duo ikon lokal, Terry-Lampard.

Di musim tersebut The Blues mengakhiri gelar dobel setelah gelar Piala Carling juga berhasil diraih. Lampard juga berhasil mempertahankan gelar Chelsea player of the year setelah meraihnya di musim sebelumnya. Keberhasilan meraih gelar liga rupanya tetap membuat klub sakit hati karena kalah oleh Liverpool yang menjadi jawara di semi-final LC oleh gol hantu Luis Garcia yang masih menjadi perdebatan hingga kini.

Musim 2005/2006, hasil menyakitkan itu coba diobati namun klub kembali kalah oleh calon juara, Barcelona di babak perdelapan final. Namun hasil menggembirakan kembali diraih di liga setelah mengandaskan Manchester United yang mulai bangkit setelah dua musim terpuruk dengan skor telak 3-0.

Kebangkitan kembali Manchester United rupanya bukan angin lalu karena The Blues gagal meraih hat-trickgelar karena seri oleh Arsenal di pekan 36 musim 2006/2007. Akan tetapi senyum kembali tersimpul di bibir Mourinho cs karena berhasil mengalahkan rival sekotanya itu di final piala FA lewat gol tunggal Didier Drogba di babak perpanjangan waktu.

Musim 2007/2008, secara kontroversial Mourinho dipecat setelah partai melawan Valencia di LC. Asisten pelatih, Avram Grant ditarik menjadi pelatih sementara dan berhasil menbawa klub ke final LC sebelum kalah oleh Manchester United lewat adu penalti.

Di liga, mereka kembali didudukkan oleh MU di peringkat kedua dan turun satu peringkat pada musim berikutnya gara-gara friksi di jajaran manajemen meski kembali meraih gelar piala FA di musim 2008/2009 di tangan Guus Hiddink. Sayangnya Hiddink urung menekan kontrak baru dan posisinya digantikan Carlo Ancelotti.

Setelah gelar dobel direbut dari Manchester United di tangan Don Carlo pada musim 2009/2010, friksi di jajaran staf membuat Don Carlo dipecat dan posisinya digantikan oleh Andre Villas-Boas di awal musim 2011/2012. Sempat mengejutkan di awal musim namun performa tim kembali menurun akibat kurang rasa hormat oleh pemain senior macam Terry, Lampard dan Drogba terhadap AVB yang dari segi usia berdekatan dengan mereka.

Asisten manajer Roberto Di Matteo pun menjadi caretaker. Di tangan pelatih Italia keempat dalam sejarah klub ini, gelar yang dimimpikan klub, Liga Champions berhasil diraih setelah mengandaskan Bayern Munchen di final setelah sebelumnya mengandaskan Barcelona di semi-final. Sementara itu di final Piala FA, Liverpool juga berhasil ditekuk dengan skor 2-1. Hasilnya Di Matteo diangkat menjadi pelatih tetap untuk musim 2012/2013.

Memasuki musim 2012/2013, regenerasi mulai dilakukan dengan menjal Didier Drogba, Salomon Kalou dan Raul Meirelles digantikan bintang-bintang muda nan yahud macam Eden Hazard, Oscar dan Victor Moses. Bukan untung tapi justru buntung karena dua kekalahan di ajang prestisius macam Charity Shield dan Piala Super Eropa oleh Manchester City dan Atletico Madrid dan kegagagalan menembus fase knock-out LC justru melemparkan Di Matteo di jurang pemecatan.

Rafael Benitez ditunjuk menjadi penerus namun kerap dicemooh oleh beberapa suporter klub dengan seringnya menunjukkan spanduk bernada kebencian. Beberapa pemain juga bersikap serupa setelah kekalahan di dua ajang penting seperti Piala FA dan Piala Dunia Antarklub plus seringnya mencadangkan ikon klub, Terry. Tapi akhirnya Rafa dan Terry cs bersatu dan gelar pertama yakni Liga Europa diraih sebagai pelipur lara akhir musim.

Musim 2013/2014, Rafa diberhentikan dan Napoli menjadi pelabuhan terbarunya. Sosok kontroversial Jose Mourinho yang dicaci maki di Madrid kembali setelah tujuh musim pergi dari klub. Targetnya musim itu masih sama seperti musim sebelumnya yaitu peremajaan.

Dua bintang muda Andre Schurrle (Bayer Leverkusen) dan Marco Van Ginkel (Vitesse Arnhem) direkrut. Edinson Cavani (Napoli) kabarnya juga akan didatangkan namun sepertinya Paris Saint-Germain yang akan memenangkan perburuan sang pemain.

Hal itu membuat peluang klub meraih gelar liga semakin besar karena rival utama Manchester United baru saja ditinggal oleh Sir Alex Ferguson, manajer terbesarnya setelah 27 tahun, yang memilih duduk di jajaran direksi klub.

SEJARAH STAMFORD BRIDGE


Chelsea hanya memiliki satu stadion sepanjang sejarahnya yaitu Stamford Bridge setlah dibeli oleh Gus Mears dan Joseph Mears pada 1904. Luasnya pada waktu itu 12,5 hektar.

Arsitek Archibald Leatch yang pernah merancang Ibrox, Celtic dan Hampden Park adalah otak awalnya. Dimulai dengan bentuk mangkuk terbuka dan dan satu teras tertutup, Stamford Bridge pada awalnya memiliki kapasitas 100.000. Pembangunan teras bagian selatan yang menutupi seperlima tegakan memiliki julukan “shed end” setia menemani pendukung The Blues pada era 60-an hingga 80-an.

Pada tahun 70-an sebenarnya Stamford Bridge hendak di renovasi ulang namun krisis keuangan membuatfree holder menjual kepada pengembang property hingga awal 90-an dimulai kembali dengan sisi utara, barat dan selatan semua seatre dibuat lebih dekat dengan tepi lapangan hingga selesai pada 2001.

Di era ini Chelsea juga mengalami pengembangan di luar sektor sepakbola seperti pembangunan hotel, apartemen, bar dan Chelsea megastore dengan tujuan memberikan tambahan penghasilan bagi sisi bisnis.

Di era Abramovich, hak nama Chelsea kini dipegang oleh Chelsea Pitch Owners (CPO) dimana suporter menjadi pemegang saham utama untuk memastikan bahwa klub tidak dijual ke pengembang. Dengan begitu bila klub dibeli maka hak kepemilikan nama “Chelsea” tak bisa dipakai.

Sepanjang sejarahnya, Stamford Bridge pernah digunakan untuk even-even sepakbola semacam final Piala FA 1920/1922 dan juga sepuluh patai semi-final terakhir dimana terakhir pada tahun 1978.

Selain sepakbola, pertandingan-pertandingan olahraga lain seperti Rugby (All bLacks vs Middlesex,1905) dan (New York Giants vs Chicago White Sox, 1914), Tinju (Jimmy Wilde vs Joe Conn, 1918), Dirt Track Racing 1928-1932, Greyhound Racing 1932-1968, Midget Car Racing 1948-1980 dan kriket pada 1980.